Wednesday 08th December 2021,

Food Truck Kian Mewabah di Bali

Food Truck Kian Mewabah di Bali

Bisnis kuliner kian mengalami perkembangan yang kian inovatif, disamping tawaran menu yang bervariatif, konsep mobil bisnis menjadi alternatif untuk mobilitas dan tingginya harga sewa tempat.

Dikenal dengan nama Food Truck, mobil bisnis ini diperkenalkan pertama kali di Jakarta. Mengadopsi gaya berjualan kuliner di Negara-negara maju, food truck memadukan antara menu makanan khas yang unik modern bahkan tradisional dengan modifikasi mobil yang menarik. Tidak heran, jika peminatnya didominasi oleh kaum muda.

Bali pun juga tidak ketinggalan, food truck kini merambah pulau dewata. Adalah Arya Sutedja, yang memodifikasi mobil Jimny yang sudah lama tidak digunakan dengan memotong atap kabin belakangnya untuk muatan peralatan masak. Meski pemilik hotel Kuta Angel dan pengusaha UC silver di Gianyar ini tergolong kalangan elit, namun ia tidak segan melayani pelanggan yang datang. Arya mengaku dididik oleh Ayahnya agar menghargai usaha apapun baik skala kecil.

“Saya hanya mengisi kejenuhan waktu luang dan kebetulan ada saudara yang hobi memasak, lalu terpikirlah menggunakan mobil tua yang sudah tidak terpakai,” ungkapnya Sabtu (30/7) lalu saat acara Food Truck di Lumintang, Denpasar.

Untuk investasi, kata Arya sebenarnya tidak memerlukan nominal yang besar karena untuk kendaraan tidak terlalu banyak modifikasi, namun usaha kulinernya yang diberi nama Encik Made, dengan menu kolaborasi modern, tradisional dan chinese food ini mengandalkan bahan baku utama sekaligus menjadi unggulannya, yakni 100% organik.

Pun begitu, usaha ini tidak terlalu menyita waktu, karena hanya dijalankan pada waktu akhir minggu di lokasi tertentu seperti pada Minggu pagi saat Car free Day di parkir lapangan Renon. Lain halnya dengan Agung Adi, pemilik kuliner Suroboyo Spesial Nasi Udang dengan VW kombinya ini memulai usaha dengan investasi cukup besar yakni diatas Rp50 juta. Maklum dibutuhkan desain dan modal yang cukup untuk memodifikasi VW Kombi tua agar terlihat menarik mata dan instalasi peralatan memasak.

Tetapi modal awal itu ke depan dinilai sebagai investasi pengganti sewa tempat jika dibandingkan mereka yang mengontrak toko. “Cukup hanya dengan membayar sewa tempat parkir sebesar Rp50.000 per satu harinya, kalau rame rata-rata omsetnya mencapai 60 hingga 80 pesanan,” ujarnya.

Namun sayangnya, kuliner berbasis kendaraan ini di Bali belum difasilitasi dalam wadah Asosiasi. Selain termasuk dalam kategori baru, konsep mobil bisnis kuliner ini masih lebih prioritaskan orientasi berjualan sendiri, ketimbang rame-rame. Padahal, jika dikumpulkan dalam satu area, kompetisi antar bisnis food truck akan saling mengisi karena tentunya menawarkan produk yang berbeda.

 

Nissan Bali

Leave A Response


Partner Ship